“Basa Indung” dan “Basa Lulugu” dalam Kurikulum Lokal Basa Sunda

Oleh : Ahmad Gibson al-Bustomi

Basa indung” orang Sunda adalah bahasa Sunda, hal ini tidak lagi perlu diperdebatkan. Akan tetapi bahasa Sunda yang mana? Apakah bahasa Sunda yang dikenal dan dipakai oleh masyarakat Sunda Priangan? (Bandung, Cianjur, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis), ataukah basa Sunda non-Priangan lainnya seperti bahasa Sunda dengan dialek yang digunakan oleh masyarakat di wilayah seperti Cirebon, Banten, Bogor, wilayah Sunda lainnya?

Secara garis besar, bahasa Sunda memiliki 4 ragam dialek, yaitu dialek Bandung (yang juga disebut Sunda Pringan), Bogor, Banten dan Cirebon. Asal muasal kehadiran dialek tersebut, selain yang terlahir sebagai kenyataan real dari bawaan budaya asalnya, ada juga yang terlahir dari sejarah relasi budaya dengan budaya lain. Dialek Sunda Priangan atau juga dikenal sebagai dialek Bandung kelahirannya (sebagai contoh), kelahiran tidak bisa dilepaskan dari penaklukan dan ekspansi budaya Mataram di tatar Sunda.

Keberadaan dan pamor basa Sunda dialek Bandung ini menemukan kekuatannya ketika pada tahun 1872 pemerintah Kolonial Belanda membakukan bahasa Sunda dialek Bandung sebagai bahasa Sunda standar di wilayah Keresidenan Jawa Barat yang diberlakukan di lingkungan pemerintahan, dan kaum menak pribumi. Pembakuan ini, melalui keputusan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1992 yang ditindaklanjuti dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda yang diumumkan dalam Lembaran Negara No. 125 Tahun 1893, mengukuhkan dan membakukan bahasa Sunda dialek Bandung sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Tatar Sunda. Dialek yang kemudian kini dijadikan sebagai basa bahasa baku (lulugu) bahasa Sunda. Bahasa Sunda dialek Bandung ini kemudian hidup subur di wilayah Priangan (Bandung, Cianjur, Tasik, Garut dan Ciamis), sehingga dikenal juga sebagai bahasa Sunda Priangan. Continue Reading »“Basa Indung” dan “Basa Lulugu” dalam Kurikulum Lokal Basa Sunda

Kemerdekaan dan Dosa di Mata Iqbal

Cuma Gereja, kuil, masjid,rumah berhala
Kau bangun lambang-lambang penghambaanmu
Tak pernah dalam hati kau bangun dirimu
Hingga kau tak bisa jadi utusan merdeka.

(Muhammad Iqbal)

TEMAN saya bercerita tentang pembicaraannya dengan seorang abdi dalem keraton. Berpijak pada asumsi bahwa sikap abdi dalem (yang kebetulan temannya juga) kepada majikannya, Sultan, sebagai sikap keterjajahan, teman saya bertanya, “Apakah Anda tidak merasa dalam keadaan terjajah, dan tidak berusaha keluar dari keterjajahan itu?” Sang abdi dalem menjawab bahwa ia sama sekali tidak merasa terjajah, karena pengabdiannya kepada Sultan disikapi sebagai penghormatan dan ketaatannya kepada bangsanya. Dan, bahkan bila ada orang yang memaksa dia untuk tidak taat pada Sultan dan melarang tatakrama dalam menghadap Sultan, ia menganggap bahwa larangan itulah penjajahan bagi dirinya. Continue Reading »Kemerdekaan dan Dosa di Mata Iqbal